1000333415.jpg

*“*Kamu bercanda ya, Gyandra?”

Pria itu berdiri di dekat ujung tempat tidur, satu kaus kaki sudah terpasang, sementara yang satunya lagi entah di mana. Kemejanya menggantung tanpa dikancingkan di satu bahu saat dia memandangi Gyandra, yang sedang duduk bersila menyandar pada kepala tempat tidur dengan sebuah laptop yang bertumpu nyaman di atas pahanya. Bajingan cantik itu bahkan tidak repot-repot menutupi bercak kemerahan di kulitnya akibat sentuhan panas berulang semalaman.

*"*Ini hal pertama yang kamu lakuin di pagi begini ke aku? harusnya kamu kasih aku morning kiss,"

Gyandra bahkan tidak mendongak.

"I am making out, babe," jawabnya tanpa penyesalan, matanya tertuju pada kursor yang berkedip. "Ya, dengan laptop!!" Sahutan dari pria tersebut membuat gerakan jemarinya berhenti sebentar ketika senyumnya mekar, "... and a stack of headlines that need to be shoved straight up those fat politican asses!"

Sebuah dengusan pelan terdengar.

"Kalian para jurnalis memang sinting sampai tulang-tulang."

"Nggak juga, sih," Gyandra mengoreksi, akhirnya mendongak untuk melemparkan senyuman berlesung pipit yang hampir tidak adil karena terlalu memikat. Dia menatap pria itu dari kepala hingga ujung kaki dengan pandangan lambat yang sepenuhnya terlalu menggoda untuk seseorang yang saat ini sedang mengusir pasangannya. "Cuman kurang digaji aja."

Televisi bergumam di latar belakang, memenuhi apartemen dengan irama familier dari seorang pembawa acara berita pagi. Sebuah spanduk merah berjalan di bagian bawah layar, mengumumkan keputusan parlemen lainnya yang telah membakar media sosial bahkan sebelum matahari terbit dengan benar.

Jemari Gyandra terhenti di atas papan tik. "…Well," gumamnya pada diri sendiri. "Hilang sudah pagi yang damai."

"Kamu ngedengerin benda itu sepanjang malam?"

"Yep. Ucapan bualan politisi tuh sama nikmatnya sama desahan kamu semalem."

Pria itu tertawa terlepas dari dirinya sendiri, hampir seperti nada mengejek. "You need theraphist, idiot."

"Aku ngelola redaksi independen," jawab Gyandra sambil menutup laptopnya dengan cepat. *"*Sama aja, personal theraphy."

Dengan efisiensi yang terlatih, dia menyampirkan tas selempangnya di satu bahu, mengambil kamera dari meja makan, dan merogoh kunci apartemennya dari saku celana jeans yang dia pakai kemarin.

Pria itu mengernyitkan dahi.

"Kamu sudah mau pergi?"

"Aku ada panggilan wawancara untuk bikin kesel pemerintah."